Delapan Persepsi Salah Soal Wartawan

Rabu, 07 Januari 2009 · 1 komentar

ADA banyak sekali persepsi yang keliru tentang wartawan. Persepsi ini tak cuma ada di sebagian masyarakat, tapi juga ada di kalangan wartawan sendiri terutama wartawan yang tak memperoleh pelatihan yang baik tentang profesinya. Berikut adalah delapan persepsi keliru tyang masih ada tentang sosok wartawan:


Wartawan adalah makhluk sakti yang bisa berbuat apa saja. Anggapan ini jelas keliru, sebab wartawan seperti masyarakat lainnya terikat oleh aturan-aturan negara dan agama serta norma-norma kemasyarakatan.

Wartawan adalah orang yang kebal hukum. Ini jelas keliru. Setiap warga negara sama kedudukannya di mata hukum. Terkait pekerjaannya, ada paling tidak 34 pasal yang dapat menjerat wartawan ke meja hijau.

Wartawan bisa menulis semaunya dan pasti dimuat. Ini juga keliru. Ada mekanisme yang harus dilalui sebelum tulisan wartawan dimuat di surat kabar. Mulai dari mekanisme pengujian kelayakan muat (akurasi data, bukan berita bohong, tidak menyerang pihak- pihak tertentu, tidak mengandung unsur SARA, keberimbangan, dll), pengeditan, dan sebagainya.

Wartawan adalah sosok urakan yang kerap mengabaikan etika. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang wartawan harus memegang teguh etika, baik etika kemasyarakatan maupun etika profesi. Wartawan yang baik juga akan berpenampilan pantas saat melakukan tugasnya.

Wartawan adalah orang yang bisa masuk ke bioskop, makan di restoran, naik kereta api, naik bus, dan nonton konser tanpa bayar. Tentu saja anggapan ini sangat keliru. Untuk dapat menonton di bioskop, makan di restoran, naik kereta api, naik bus, dan nonton konser tentu harus membayar. Hanya pemilik, tamu undangan, dan perampok yang bisa melakukan hal-hal di atas tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.

Wartawan adalah orang yang boleh melakukan wawancara dengan siapa saja. Ini juga pendapat yang keliru. Alasan bahwa masyarakat berhak atas sebuah informasi tidak bisa dijadikan dalil. Nara sumber berhak menolak saat wartawan hendak mewawancarainya.

Wartawan selalu benar. Wartawan juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Namun, wartawan yang baik akan senantiasa mengupayakan bahwa tulisanya bersih dari kesalahan, baik kesalahan logika, kesalahan informasi, kesalahan tata bahasa, maupun kesalahan pengejaan.

Wartawan adalah orang yang suka mengenakan rompi berkantung banyak dan membawa- bawa kamera ke sana kemari. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai wartawan, kamera dan rompi kantung banyak memang akan sangat membantu. Namun, tak semua yang mengenakan rompi berkantung banyak dan membawa-bawa kamera ke sana kemari adalah wartawan, dan tak semua wartawan harus melakukan itu jika kondisinya memang tak mengharuskan untuk itu.

Wartawan adalah orang yang boleh dengan seenaknya melewati tahapan birokrasi. Ini adalah juga pendapat yang keliru tentang wartawan. Meski dalam saat-saat tertentu beragam kemudahan kerap diperoleh wartawan dalam melaksanakan tugasnya, tak berarti wartawan bisa seenaknya melangkai birokrasi. Ada prosedur yang harus ditempuh. (arief permadi)

Read More..

Memecah Angle Berita

Kamis, 04 Desember 2008 · 3 komentar

ADA kesulitan yang umum terjadi di kalawan wartawan pemula. Kesulitan terjadi ketika data yang dikumpulkan wartawan ternyata teramat banyak hingga ia tak mampu lagi memilih dari mana harus memulai menulis.

Sesungguhnya, ada cara sederhana untuk mengatasi hal tersebut. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membuat klasifikasi topik dari semua informasi yang diperoleh.

Langkah berikutnya adalah mengelompokkan topik-topik yang masih berkaitan dalam satu kelompok.

Langkah ketiga, memilih topik-topik yang sudah dikelompokkan tadi berdasar skala kemenarikan bagi pembaca. Topik yang paling menarik ditempatkan pada urutan teratas,

Ambil contoh, ada dua atau tiga kelompok topik yang menurut Anda paling menarik. Yang harus Anda lakukan adalah memilih salah satunya, dan menyimpan dua kelompok topik lainnya sebagai "amunisi".

Setelah sebuah kelompok topik yang paling menarik terpilih, mulailah melakukan proses yang sama, yakni memilih informasi atau pernyataan yang mana saja yang paling memiliki daya jual. Tulislah paling tidak lima hal yang paling menarik. Pilih yang paling menarik, dan mulailah menulis dari sudut tersebut.

Akan tetapi, sekalipun teknik ini sudah dilakukan, dan Anda sudah berhasil membuat sebuah tulisan, kerap masih saja ada satu atau dua informasi menarik yang Anda kesulitan untuk memasukkannya dalam tulisan Anda yang pertama.

Sekali lagi, tak perlu memaksakan diri. Jadikan informasi menarik yang belum tertulis itu sebagai bahan untuk menulis berita baru yang terkait dengan berita sebelumnya. Di dalam dunia jurnalistik, ini dikenal dengan sebutan anak berita. Dan namanya juga anak, tentu bisa tak cuma satu, tapi dua, tiga atau empat.

Saat menulis anak berita inilah biasanya kelompok topik yang pada awal tadi Anda simpan sebagai "amunisi" menemukan jalurnya. Jika ini terjadi, jangan ragu untuk menuliskannya. Yakinlah bahwa Anda sudah berada pada jalan yang tepat.

Sejumlah topik menarik sebenarnya juga dapat Anda simpan untuk suatu saat Anda buat dalam bentuk feature, atau tulisan khas yang lebih mengutamakan unsur human interest, dan tak terlalu terikat oleh waktu penayangan.

Jika ini akan Anda lakukan sebaiknya lakukan eksplorasi yang lebih mendalam saat melakukan peliputan. Ini berarti, Anda memang harus sudah memiliki rencana bagaimana semua informasi yang Anda kumpulkan itu akan Anda tulis sejak Anda masih berada di lapangan. (arief permadi)





Read More..

Lingkaran Nara Sumber di Kepolisian

Selasa, 02 Desember 2008 · 0 komentar


ADA yang khas dalam lingkaran nara sumber di institusi kepolisian. Wartawan yang terbiasa meliput kasus-kasus kriminal pasti tahu betul. Kekhasan terletak pada penyebutan nama nara sumber secara berjenjang, di mana petugas yang menjadi nara sumber utama kerap disebut belakangan.

Kalimat berikut adalah contoh dari kekhasan yang dimaksud.

Kapolres Bandung Barat AKBP Pratikno didampingi Kasatreskrim AKP Reynold EP Hutagalung mengatakan....

Dalam pemberitaan kasus-kasus kriminal, kata didampingi seringkali bukanlah didampingi dalam pengertian yang sesungguhnya, melainkan hanya sebuah kiasan. Sebab, sangat boleh jadi yang memberikan pernyataan adalah Kasatreskrim. Penyertaan nama Kapolres dan kata didampingi lebih sebagai penegasan tentang alur koordinasi dan komando. Ini juga berarti bahwa Kapolres bertanggung jawab atas emua keterangan resmi pada institusi yang dipimpinnya.

Dalam peliputan dan penulisan kasus-kasus kriminal dengan sumber resmi kepolisian, penyebutan nama nara sumber secara berjenjang adalah hal yang nyaris wajib, kecuali ada kesepakatan sebelumnya. Namun, karena pemakaian kata didampingi seringkali tak sesuai dengan fakta di lapangan, sejumlah wartawan kemudian memilih istilah lain, seperti memakai kata melalui adat mewakili, hingga contoh kalimat di atas menjadi:

Kapolres Bandung Barat AKBP Pratikno melalui Kasatreskrim AKP Reynold EP Hutagalung mengatakan....


Berikut beberapa jabatan dan tanda kepangkatan di kepolisian.
- Jenderal untuk pejabat setingkat Kapolri.
- Irjen Pol untuk pejabat setingkat Kadiv di Mabes Polri.
- Irjen Pol untuk pejabat setingkat Kapolda.
- Kombes Pol untuk pejabat setingkat Kabid di Polda.
- Kombes Pol untuk pejabat setingkat Kapolwil.
- AKBP untuk pejabat setingkat Kasat di Polwil.
- AKBP untuk pejabat setingkat Kapolres.
- AKP untuk pejabat setingkat Kasat di Polres.
- AKP untuk pejabat setingkat Kapolsek.
- Iptu untuk pejabat setingkat Kanit di Polsek. (arief permadi)

ARTIKEL TERKAIT

- Pengertian Berita
- Teknik Peliputan
- Jenis-jenis Berita
- Ukuran Layak Berita
- Teknik Menulis Lead, dll

KLIK DI SINI

Read More..

Sembilan Prinsip Dasar Peliputan dan Penulisan Berita Kriminal

Jumat, 28 November 2008 · 0 komentar


MELIPUT dan menulis berita kriminal sebenarnya tak jauh beda dengan meliput dan menulis berita lainnya. Namun, ada sembilan prinsip dasar yang sebaiknya diketahui oleh wartawan peliput kasus-kasus kriminal. Prinsip-prinsip ini bersifat penuh dan mengikat.

Berikut sembilan prinsip yang dimaksud.

Berita kriminal adalah laporan terkini yang disiarkan kepada publik terkait peristiwa-peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, atau sebuah organisasi.

Sebuah peristiwa disebut peristiwa kriminal jika memenuhi tiga unsur utama, yakni pelaku, tindak kriminal, dan adanya korban. Unsur lainnya yakni keberadaan saksi, tempat kejadian perkara, barang bukti, dan modus operandi.

Pelaku, korban, dan saksi, adalah nara sumber utama dalam sebuah berita kriminal. Namun, dalam kasus kriminal dikenal pula nara sumber lain yang disebut sebagai nara sumber resmi yang data, informasi, maupun statement yang dikeluarkannya merupakan data, informasi, dan statement resmi yang dinyatakan benar secara hukum dan boleh dikutip untuk disiarkan.

Termasuk dalam katagori nara sumber resmi adalah lembaga penegakan hukum seperti kepolisian dan peradilan, pihak rumah sakit, organisasi, lembaga atau instansi terkait jika kasusnya melibatkan sakit, organisasi, lembaga atau instansi, serta pengacara dari kedua belah pihak yang berbicara atas nama pelaku atau korban. Kerap juga dimasukkan ke dalam nara sumber resmi adalah pernyataan pihak keluarga baik itu keluarga pelaku atau korban.

Untuk dapat meliput dan menulis sebuah berita kriminal dengan baik, adalah wajib bagi seorang wartawan untuk memiliki pengetahuan yang memadai tentang hukum, terutama terkait dengan peristiwa yang sedang ditanganinya.

Wartawan juga harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang berbagai aturan hukum terkait apa yang boleh dan tidak boleh dipublikasikan, termasuk beragam istilah atau bahasa hukum dan peradilan seperti apa itu tersangka, apa itu terdakwa, apa yang dimaksud dengan terlapor, apa yang dimaksud dengan pledoi, dakwaan, juncto, dan sebagainya.

Ini semua adalah pengetahuan wajib yang menjadi prinsip dasar liputan dan penulisan berita kriminal dan pengadilan. Sebab, apa pun output-nya, adalah haram mencederai peluang pihak mana pun untuk mendapat peradilan yang fair dan dan tak memihak, baik sengaja atau pun tak sengaja. Bagi wartawan dan media massa, kewajiban ini bersifat penuh dan mengikat.

Akurasi, adalah hal mendasar lainnya yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan yang meliput dan menulis berita kriminal. Sajikan fakta secara tepat tanpa menambah atau menguranginya.

Memutuskan meliput dan menulis sebuah kasus kriminal berarti memutuskan untuk mengikuti dan melaporkan kasus itu hingga selesai. Jadi, sebelum menyentuh sebuah kasus, pertimbangkan benar apakah sebuah kasus layak untuk Anda liput dan Anda siarkan. Jika sebuah kasus tidak ada hal yang menariknya bagi publik Anda, sebaiknya tidak menyentuhnya sama sekali karena saat Anda melaporkannya, Anda wajib melaporkannya hingga akhir.(arief permadi)

Read More..

Membuat Lead Feature

Senin, 10 November 2008 · 0 komentar

SEPERTI bentuk tulisan lain di media massa, tak ada aturan baku terkait lead atau intro dari sebuah feature. Satu-satunya aturan yang ada adalah bahwa lead tersebut haruslah berupa sesuatu yang menarik, baik dari sisi konten maupun penataan kalimatnya. Jangan bertele-tele, jangan pula membuat kalimat-kalimat yang terlalu panjang, atau penuh dengan angka-angka pada kalimat pertama.

Meski tak ada aturan baku dalam penulisan lead, ada beberapa jenis lead yang kerap digunakan oleh para penulis bisa dikenali. Beberapa ahli menamainya dengan nama yang berbeda, meski sesungguhnya isinya itu-itu juga. Berikut di antaranya. (Nama dan tempat yang dijadikan ciontoh lead, bukan peristiwa sebenarnya)

1. Lead sebab akibat atau biasa juga dikenal sebagai lead pasak. Lead ini dimulai dengan apa yang menjadi pemicu dari peristiwa yang diangkat.

Kalau saja guru dan teman-temannya tak terus mencemooahnya sepanjang hari itu, Bunga,
siswa SD Negeri 1001 Jakarta itu mungkin masih berkumpul bersama keluarganya. Pekan lalu, ia mengiris sendiri urat nadi di pergelangan tangannya dengan potongan kaca. Itu dilakukannya di depan kelas sambil menangis sesegukan.


2. Lead kontras atau kontradiktif. Sesuai namanya, lead ini menampilkan sudut yang kontradiktif terkait peristiwa yang ditulis. Penulis berupaya menyajikan ironi. Lead ini bisa sangat luarbiasa jika ditulis dengan baik.

Ketika serombongan petugas menghancurkan rumah petaknya di pinggiran Sungai Brantas, Sabtu pagi itu, Sumarni hanya mampu menangis sambil memeluk ketiga anaknya di seberang jalan di depan sebuah rumah makan. Ia sungguh tak bisa mengerti. Tangannya gemetar memegang resi pembayaran PBB yang baru dilunasinya, pekan lalu.

3. Lead pertanyaan. Seperti namanya, lead ini dimulai dengan kalimat bertanya atau kalimat retoris.

Masih adakah pintu maaf bagi Srimanu yang dengan keji telah menyiksa anak dan istrinya sendiri hingga maut menjemput mereka? Pria separo baya yang kini terbaring sakit itu hanya bisa terdiam. Kelopak matanya sembab. "Bahkan pada Tuhan pun saya malu memintanya," bisik Srimanu lirih, nyaris tak terdengar.

4. Lead deskriptif. Seperti namanya, rangkaian kalimat dalam lead ini berisi penggambaran tentang suasana, mimik, atau apa pun yang dianggap paling menarik terkait peristiwa yang ditulis.

Parasnya pucat, tubuhnya kaku, tampak seperti mayat. Hanya matanya yang berkedip. Ini sudah hari kelima. Ia masih sadar. Sejak gempa meluluh-lantakan Padang, Sabtu tengah malam lalu, petugas belum juga berhasil mengeluarkannya dari reruntuhan.

5. Lead figuratif. Ini adalah jenis lead yang menggunakan perumpamaan yang hiperbolis untuk menggambarkan fragmen yang dicuplik. Hampir sama dengan lead ini adalah lead epigram atau ungkapan khas untuk mengumpamakan sesuatu.

Bagai punguk merindukan bulan, penantian Yanti (23) selama tiga tahun ini berakhir sia-sia. Yanto (26), lelaki yang dinikahinya empat tahun lalu, ternyata memilih tinggal di Malaysia dan tak ingin kembali.

6. Lead parodi. Seperti namanya, lead ini mengambil sebuah parodi dari fragmen peristiwa yang dicuplik.

Saking sukanya pada warna putih, Jajang (24) dituntut cerai oleh isterinya sendiri. Sang isteri, Neneng (20), rupanya tak tahan karena setiap hari harus mengenakan busana serba puti oleh suaminya.


7. Lead kutipan. Lead ini menggunakan kutipan yang dianggap paling menarik sebagai awal kalimat.

"Mau bilang apa. Nasi sudah menjadi bubur," sesal Tono yang sejak pekan lalu terpasa meringkuk di sel tahanan Mapolres Sumedang karena mencuri sapi milik tetangganya.


8. Lead sapaan. Lead ini menggunakan gaya bagasa bertutur.

Sayang, pagi begitu dingin di Bukit Manoreh. Seperti kemarin, wajahmu selalu terbayang. Rindu seperti tak bertepi.
Di benak Rudi, memang hanya ada Sinta yang begitu dicintanya. Ia bahkan tetap menanti, meski Sinta tak akan pernah kembali.



9. Lead literer. Lead ini menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang dijadikan perumamaan bisa saja fiktif, tapi bisa juga peristiwa nyata yang dianggap satu napas.

Kisah Sengkon dan Karta kembali terulang. Polisi lagi-lagi salah tangkap. kali ini terjadi di Kota Banjar.


10. Lead dialog. Lead ini menggunakan cuplikan dialog yang dianggap paling menarik.

"Berapa usiamu saat menikah?"
"Lupa, Pak Lurah. Saya baru saja kelas lima SD saat Pak Ujang datang dan menemui Bapak untuk melamar."
Ina, begitu nama pengantin cilik itu. Kini ia tengah mengandung, anaknya yang kelima.


11. Lead Kumulatif. Lead ini sebenarnya masih termasuk lead deskriptif. Namun, penulis tak memilih fragmen tertentu, melainkan menuliskan rentetan peristiwa secara berurut dan membawa pembaca pada antiklimaks peristiwa.

Tak lama setelah memperoleh informasi itu, Anita pun bergegas berlari ke lantai tiga. Dalam benaknya, sesuatu telah terjadi. Yang terbayang adalah paras anaknya yang menjerit meminta pertolongan. Tapi di lantai tiga ternyata tak ada siapa pun. Hanya secarik kertas berisi tulisan anaknya.


(arief permadi)

Read More..